AINA QALBYNA BLOG
Allah memberikan kehidupan kepada kita sebagai makhluq sempurna,punya akal....dan kehidupan yang indah
....jalani dengan ikhlas dan siap menerima apa adanya yang diberikan oleh Allah SWT....amin
Perjalanan panjang hidup seorang anak manusia sulit untuk di tebak oleh yang namanya manusia itu sendiri,
umur,rezeki,pertemuan,juga maut.
Semua ada yang mengatur,tiap sedetik desah nafas yang kita hirup ada yang mengatur yaitu Allah SWT.
------------------------------
IslamDotNet | Links | Teman-teman | Siapakah aku?

Wednesday, November 21, 2007

Bismillahirahman nirahim
WANITA SUFI ITU BERNAMA RABI'ATUL ADAWIYAH

Rabiah adalah salah satu tokoh sufi wanita pada zamannya,beliau dilahirkan di kota Basrah tahun 95 hijriyah,dan putri ke 4 dari seorang lelaki bernama,Ismail Adawiyah.Beliau hidup dalam kemiskinan dan lingkungan yang serba kurang bahkan ketika Rabiah lahir lampu untuk menerangi saat kelahirannyapun tidak ada. Rabiah yang lahir dalam keadaan miskin tapi kaya akan iman dan peribadatan kepada Allah. Ayahnya hanya seorang yang bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan. Pada akhir kurun pertama Hijrah, keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlomba-lomba mencari kekayaan. Sebab itu kejahatan dan maksiat tersebar luas.
Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup wara’ serta zuhud hampir lenyap sama sekali. Namun begitu, Allah telah memelihara sebahagian kaum Muslimin agar tidak terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Pada masa itulah muncul satu gerakan baru yang dinamakan Tasawuf Islami yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri. Pengikutnya terdiri daripada lelaki dan wanita. Mereka menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendidik jiwa dan rohani mengatasi segala tuntutan hawa nafu demi mendekatkan diri kepada Allah sebagai hamba yang benar-benar taat. Ayahanda Rabi’ah merupakan hamba yang sangat taat dan taqwa,hidup jauh dari kemewahan dunia dan tidak pernah berhenti bersyukur kepada Allah. Beliau mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Quran semata-mata. Natijahnya Rabi’ah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi al-Quran sehigga berhasil menghafal kandungan al-Quran.

Sejak kecil Rabi’ah sudah berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam. Memasuki masa kedewasaannya, kehidupannya menjadi serba sempit,dan semakin sulit setelah beliau ditinggal ayah dan ibunya,dipanggil Allah. Dan ujian2 lain yang menguji keteguhan imannya,sampai dia sanggup,untuk menjadi
hamba sahaya dari seorang kaya raya pada zaman itu,dan ini terjadi karena penderitaan kemiskinan yang dideritanya.Cobaan demi cobaan dilalui Rabiah dalam menjalani hidupnya yang sarat akan penderitaan dan karena beliau pinter memainkan alat musik,maka majikannya semakin menjadikannya sumber mencari uang dengan keahlian yang dimiliki Rabiah.
Dalam keadaan hidup yang keras dan serba terkekang sebagai hamba sahaya,membuat Rabiah mendekatkan diri kepada Allah,dan selalu menyempatkan waktunya yang luang untuk terus bermohon kepada Allah,baik pagi maupun petang,malam dan siang. Amalannya tidak hanya sebatas berdoa saja tapi sepanjang hari dan sepanjang ada waktu dia senantiasa selalu berzikir dan berdoa,dan selalu melaksanakan amalan2 sunat lainnya dan saat melakukan sholat sepanjangn sholat airmatanya selalu membasahi sajadahnya,air mata kerinduan kepada Allah sang Khaliq yang di rinduinya.Ada riwayat yang mengatakan beliau telah terjebak dalam dunia maksiat. Namun dengan limpah hidayah Allah, dengan dasar keimanan yang kuat dan belum padam di hatinya, dia dipermudahkan oleh Allah untuk kembali bertaubat. Saat2 taubat inilah yang mungkin dapat menyadarkan serta mendorong hati bagaimana merasai cara berkomunikasi yang baik antara seorang hamba rabiah dengan sang Khaliq Allah swt dan selayaknya seorang hamba bergantung harapan kepada belas ihsan Rabbnya.
Kecintaan Rabiah kepada Allah mengalahkan hidup dan kecintaannya kepada dunia dan isinya,hari2 nya habis untuk berkomunikasi dengan Allah betapa dia merasa dirinya adalah milik Allah hingga ada beberapa pemuda ingin melamarnya di tolaknya dengan halus.
Beliau selalu berbicara dengan Allah seolah2 dekat sekali dengan Allah dengan bahasa2 yang indah dah doa2 yang sangat menusuk hati dan kata pujian seperti layaknya kerinduan seseorang kepada kekasih hatinya.Salah satu kata2 Rabiah ketika ber munajat sambil air matanya mengalir.

Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun, Tiada selain Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun, Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan peribadiku sekalipun, Akan tetapi Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun.”
Ya Tuhanku!
Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu
supaya tiada suatupun yang dapat
memalingkan aku daripada-Mu.”
Rabiah banyak menolak lamaran yang datang kepada nya
dengan inilah alasannya: “Perkawinan itu memang perlu bagi siapa yang mempunyai pilihan. Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun.” Rabi’ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh itu dia terus-menerus mencintai Allah semata- mata. Dia tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mencapai keridhaan Allah. Rabi’ah telah mematikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata.
Selam 30 tahun selalu doa ini yang senantiasa di ulang2 ketiak dalam sholatnya “Ya Tuhanku!
Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu
supaya tiada suatupun yang dapat
memalingkan aku daripada-Mu.”
Antara syairnya yang masyhur berbunyi:
“Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun, Tiada selain Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun, Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan peribadiku sekalipun, Akan tetapi Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun.”
Rabi’ah sangat luar biasa di dalam mencintai Allah. Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk membersihkan hati dan jiwa. Dia memulaikan pemahamannya tentang sufinya dengan menanamkan rasa takut dari murka Allah seperti yang pernah ungkapkannya dalam doa2nya
“Wahai Tuhanku!
Apakah Engkau akan membakar
dengan api hati yang mencintai-Mu
dan lisan yang menyebut- Mu dan
hamba yang takut kepada-Mu?”
Kecintaan Rabi’ah kepada Allah bukan karena pengharapan untuk beroleh syurga Allah semata-mata,tapi sudah menjadi kewajiban baginya
“Jika aku menyembah-Mu kerana takut daripada api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu kerana mengharap syurgaMu maka jauhkan aku dari syurgaMu ! Tetapi jika aku menyembah- Mu kerana kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”
Begitulah keadaan kehidupan Rabi’ah yang ditakdirkan Allah untuk diuji dengan keimanan serta kecintaan kepada- Nya. Rabi’ah meninggal dunia pada 135 Hijrah yaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun. Moga-moga Allah meridhanya, amin.
Untuk itu mari kita merenung adakah kita sadar akan sebuah hakikat yang ada di sebut dalam surat al Imran ayat 142” Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga padahal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang yang sabar.”

Bagaimana perasaan kita apabila orang yang kita kasihi menyinggung perasaan kita? Adakah kita terus berkecil hati dan meletakkan kesalahan kepada orang tesrbut? Tidakkah terpikir oleh kita untu merasakan dalam hati dan berdoa“Ya Allah! Ampunilah aku. Sesungguhnya hanya Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hanya kasih-Mu yang abadi dan hanya hidup di sisi-Mu saja yang kekal. Selamatkanlah aku dari tipu daya yang mengasyikkan.”
Sesungguhnya hendaklah kecintaan kepada Allah benar2 dapat kita tanamkan kepada diri kita bukan hanya sekedar sholat dan puasa atau ibadah ritual lainnya tapi yakin kan diri semakin kita mengenal Allah dengan dekat maka semakin ingin kita bertemu dan akan ada kerinduan untuk bertemu sang Khaliq.

KUTIPAN :
Dari berbagai sumber.
Kisah perjalanan tokoh sufi terkemuka> Labib M

7 Comments:

Blogger Nurulhaq said...

Ass wr wb..semoga di-berkati Allah dan sehat selalu hendaknya....Ahli rohani dapat menggunakan hujah akal untuk menguatkan hujah kerohanian...Tapi ahli fikir atau filasuf tidak dapat menggunakan hujah kerohanian untuk menguatkan hujah akal-nya...I now look forward to the second part of the article with interest.

28/11/07 14:29  
Anonymous iing said...

Yah walaupun Sufi, tetap saja atuh wanita zaman kini mah mesti menikah juga. Betul kan Aina?

24/1/08 16:03  
Blogger Nurulhaq said...

Aina ..I wish to hear your reply to iing comment

24/1/08 20:11  
Blogger Aina Al Qalby said...

Hidup didunia sekali dan mati juag sekali maka kita nikmati dengan rasa syukur kepada Allah,keinginan kearah yang lebih baik ada semua manusia punya keinginan yang baik2 dan indah2 tapi kalau Allah menentukan jalan itu ? toh hidup kita ini ada yang ngatur dan kita cuma menjalaninya dengan ikhlas dan tawakal,itu saja kang iing dan nurul

25/1/08 00:47  
Anonymous Nurulhaq said...

Alangkah indahnya berkasih sayang sesama kita,
yang ada hubungan cinta dengan Tuhan
Kasih sayang begini adalah murni
Insya-Allah kekal abadi sepanjang hayat hingga sampai mati
Kasih sayang sesama kita itu menjadi kuat,
kerana diikat oleh kecintaan dengan Tuhan
Faktor Tuhanlah kasih sayang di antara dua insan
atau di antara sesama manusia
kekal abadi dan murni
Kasih sayang sesama manusia kalau mahu kekal,
hubungan cinta dengan Tuhan kenalah kekal
Kasih sayang yang begini ia adalah sejati,
sampai ke mati
Kasih sayang yang tidak diikat dengan kecintaan kepada Tuhan,
cinta palsu
Biasanya tidak kekal,
tidak sampai ke mati
Sekalipun suami isteri
Kalau kekal pun kerana keadaan memaksa,
indahnya tiada
Kasih sayang adik-beradik atau sanak saudara pun pudar
jika pengikatnya tiada iaitu cintakan Tuhan
Cintakan Tuhanlah
rahsia cinta sesama manusia kekal abadi dan murni
Cintakan Tuhanlah
pengikat kasih sayang hingga berpanjangan
Susah hendak diputuskan,
payah sekali hendak dihilangkan
Cintailah manusia atas dasar cintakan Tuhan,
ia bersih, murni dan sejati kekal abadi

31/1/08 11:45  
Blogger Gmain said...

Paling aku tidak mengerti
bagaimana mahu menyeru-Mu
jika nama juga hijab
antara Engkau dengan aku.
Engkau esa
tiada hijab menemani Mu
mana mungkin Engkau terhijab.

Berapa banyak hati sudah hancur luluh
dalam merindui Mu
berapa banyak fikiran telah berkecai
dalam mencari Mu.

Engkau dekat
tetapi bila didekati Engkau menjauh
bila berhenti Engkau melambai
bila dikejar Engkau menjauh kembali.

Bila aku di tangga rumah Mu
Engkau menutup pintu
bila aku undur
Engkau membuka jendela
bila aku mengintai
Engkau melabuhkan langsir.

Dalam kepayahan ini
daku perlukan penawar
penawar itu ada pada tangan Mu
namun aku malu menghulurkan tanganku yang cemar
untuk disambut oleh tangan Mu yang suci.

Aku tidak tergamak meminta Engkau menjadi teman
kerana aku tidak pernah membuktikan kesetiaan sebagai sahabat
namun hatiku gila kepada Mu
tetapi aku malu memanggil Engkau kekasih
kerana aku tersangat hodoh dan hina.

Janganlah Engkau murka
lantaran si hodoh dan hina ini mengasihi Mu.

Wajahku yang hodoh dan hina
tidak layak Engkau tatapi
Wajah Mu yang cantik berseri
tidak layak aku tatapi
di atas tangga rumah Mu aku terlena
dengan harapan mataku tidak terbuka lagi
kerana aku tidak tahan merindui Mu.

Izinkan daku bermalam di tangga rumah Mu
dan memejam mataku di situ
agar apabila Engkau membuka pintu
Engkau memandang kepada ku
walaupun daku tidak memandang kepada Mu.

14/6/08 10:49  
Blogger Nurulhaq said...

Di dalam Islam perkahwinan itu adalah perkara besar mengikut Tuhan,
Kerana itulah nikah kahwin itu atas nama Tuhan,
Kerana Tuhan dan untuk Tuhan,
Oleh kerana itu pasangan perkahwinan biarlah jelas keturunan,
Samada lelaki ataupun perempuan,
Biarlah jelas suami isteri itu keturunan yang baik-baik,
Bertaqwa dan beriman,
Kerana keturunan suami isteri itu kalau dipanjangkan umur oleh Tuhan,
Melahirkan zuriat berpanjangan sampai akhir zaman,
Maka daripada suami isteri itu lahirlah satu etnik
Atau satu bani yang dihubungkait dengan suami atau isteri,
Kalau suami isteri itu sebagai asas etnik orang baik-baik keturunannya,
Etnik yang lahir daripadanya,
Maka keturunannya bersih daripada kejahatan terutama penzinaan,
Maka etnik itulah Tuhan berkati menyambung perjuangan Islam,
Yang akan membawa umat Islam dan Islam gemilang dan cemerlang,

Oleh itu disini barulah kita faham nikah kahwin itu,
Bukan diambil mudah dan senang,
Bukan sekadar nak melepaskan tuntutan biologi
Atau dengan kata-kata lain nak melepaskan nafsu,
Samada suami atau isteri nafsu haiwan ,
Atau dengan kata-kata yang lain nikah kahwin itu
Yang utamanya hendakkan hiburan,
Itulah yang berlaku kepada masyarakat Islam di akhir zaman,

Nikah kahwin di dalam Islam satu peranan,
Dianggap satu perjuangan yang menentukan Islam
Dan umat Islam di masa depan,
Nikah kahwin yang dimulakan dengan niat yang baik,
Atas nama Tuhan, kerana Tuhan dan untuk Tuhan,
Perkahwinan itu akan diberkati oleh Tuhan,
Berpanjangan hingga sampai melahirkan etnik,
Dari pasangan yang berkahwin itu atas nama Tuhan,
Kerana Tuhan dan untuk Tuhan,
Apabila lahir dari pasangan hidup itu niatnya murni,
Dilakukan dengan syariat yang murni,
Dengan pilihan pasangan yang murni,
Kalau lahirlah keturunan, satu tanggung jawab dibebankan,
Iaitu mendidik anak-anak oleh suami isteri hendak diberi mereka Tuhan,
Hendak diberi kepada mereka iman dan ketaqwaan,
Sebab itulah di dalam pergaulan suami isteri bukan semata-mata hiburan,
Kalau semata-mata hiburan, haiwan pun ada perasaan,
Jangan sekadar nikah kahwin,
Jangan mensetarafkan diri kita sebagai haiwan,
Iaitu hendak melepaskan nafsu haiwan,
Atau nak menunaikan tuntutan biologi yang Tuhan jadikan,
Tuntutan selepas itu pada suami isteri,
lebih besar tanggungjawab lagi besar cabaran,

Oleh itu suami isteri yang beriman dan bertaqwa di dalam pergaulan suami isteri,
Selain daripada hiburan bukan bercerita satu sama lain di waktu lapang
Seperti makan minum, kekayaan, pakaian, rumah dan kenderaan
Perbualan suami isteri lebih jauh daripada itu,
Biarlah perbualan itu perbualan mengenai perjuangan umat Islam,
Membualkan nasib Islam dan Islam di masa depan,
Membualkan hal Tuhan, iman dan ketaqwaan,
Dosa dan pahala,
Syurga dan Neraka,
Membualkan Akhirat, hidup yang berlama-lama di sana,
Perbualan itu bagi orang yang beriman satu hiburan, satu kebahagiaan,
Yang tidak dilunturkan oleh mana-mana zaman,

Kalau berkahwin tujuan melepaskan nafsu haiwan,
Atau tuntutan biologi insan,
Kalau ada masalah hilanglah hiburan,
Seperti sakit atau kemahuan biologi tidak ada,
Ataupun mendapat kesusahan,
Miskin dan ujian hilanglah hiburan,
Kalau kahwin tujuan semata-mata hiburan
bila sudah tidak ada hiburan oleh keadaan yang mendatang,
Maka krisis-krisis rumah tangga pun datang,
Lama-lama bercerai,
Kalaupun tidak bercerai kerana memikirkan anak-anak,

Tetapi di mana kebahagiaan?
Sebab berkahwin dahulu niatkan hiburan,
Hiburan sudah hilang,
Sebab itulah jangan berkahwin niatnya dibataskan, seperti berhiburan,
Jangan nak menunaikan tuntutan nafsu haiwan,
Tetapi berkahwin itu biarlah atas nama Tuhan, kerana Tuhan, untuk Tuhan,
Nanti Tuhan bagi hiburan berpanjangan,
Bukan hiburan sekadar menunaikan nafsu haiwan,
tetapi hiburan itu berpanjangan,
Tidak dilunturkan oleh masa dan zaman yang lebih sejati lagi hakiki,
Daripada hiburan tuntutan nafsu haiwan,
Atau tuntutan biologi insan,
Sebab itu bagi orang yang bertaqwa payah berlaku krisis rumah tangga,
Lebih-lebih lagi bercerai berai kerana ikatannya kuat,
Diikat oleh iman dan takutkan Tuhan,
Itulah hiburan yang berkekalan,
Sepanjang masa dan zaman,
Untuk suami, isteri, sampai ke Akhirat sana bertemu dengan Tuhan,
Bahkan perkahwinan kerana Tuhan, untuk Tuhan,
Kalau suami kaya dapat membela isterinya,
Bahkan keluarga-keluarga isterinya,
Kalau isteri yang kaya dapat dikorbankan kekayaan isterinya itu
Untuk suaminya dan keluarga suaminya,
Bagi orang yang beriman itu bukan satu beban tapi satu hiburan,
Tetapi berkahwin itu tujuannya kerana nafsu haiwan bukan kerana Tuhan,
Kekayaan suami tidak dapat diagih-agihkan,
Lebih daripada isterinya dan anak-anaknya,
Lebih-lebih lagi kalau isteri yang kaya,
Dianggap satu pantang larang atau satu kehinaan,
Untuk dikorbankan untuk suaminya,
Lebih-lebih lagi keluarga suaminya,
Itulah yang berlaku pada umat Islam hari ini,
Berkahwin niatnya terbatas,
Bukan kerana Tuhan,
Bukan masa depan dan Akhirat yang berpanjangan,
Sebab itulah suami isteri berkira sangat tentang kekayaan
tidak boleh berlebih kurang,
Kerana terjadinya suami isteri itu semata-mata tuntutan nafsu haiwan,
Bukan atas nama Tuhan dan untuk perjuangan Tuhan,

Maka terjadilah pada masyarakat Islam hari ini,
Setelah iman dan ketaqwaan hilang,
Banyak orang Islam tidak berkahwin,
Terutama banyak anak dara tua yang hidup sendiri-sendiri,
Tidak ada suami,
Datang alim ulama memberi pandangan
untuk menyelesaikan masalah umat Islam,
Terutama kaum ibu yang sampai tua tidak berkahwin,
Atau tidak bersuami yang dinamakan kahwin misyar,
Walaupun itu dibolehkan tidak menyalahi syariat Tuhan,
Itu hanya satu keharusan tetapi bukan itu jalan keluar dan penyelesaian,
Bukan itulah nikah kahwin yang tersirat mengikut Tuhan atau syariat Tuhan,
Walaupun diharuskan tetapi perkahwinan sesama itu
Tidak mengikut sunnah nabi akhir zaman,
Walaupun diharuskan tetapi menghilangkan keberkatan,
Jadi ulama nak menyelesaikan anak dara tua pun tidak pandai,
Pandangan mereka tidak jauh,
Lebih diutamakan mengambil hati perempuan,
Bukan dipadankan dengan kehendak Tuhan dan syariat Tuhan.

15/6/08 00:48  

Post a Comment

<< Home


Supported by : cenary.com